Mensikapi Kegagalan


Rabu, 28 Mei 2014

Taryono (bukan nama sebenarnya hehehe), seorang salesman Pemula, menjadi sangat Galau karena baru 2 bulan dari 6 bulan masa Probationnya menjadi seorang Salesman dirinya mencapai target, Sementara Darmin (juga bukan Nama sebenarnya) merasakan hal yang sama walaupun masih sedikit beruntung karna dari 6 bulan masa Probationnya sudah 3 bulan bisa capai Target. Keduanya tengah memasuki pertengahan bulan ke-5  dari masa 6 bulan probationnya. Perusahaan dimana keduanya bekerja memang sangat ketat dalam menentukan siapa yang bisa lolos masa percobaan, dan sebagian besar di tentukan dari Performance pencapaian angka penjualannya.

Namun demikian satu hal yang menarik adalah walaupun Taryono dan Darmin sama-sama galau, Taryono lebih bersemangat dan tetap rajin buat call appointment dengan calon Klien dan tak mau menyia nyiakan waktunya untuk terus mencari order.., walaupun memang kebanyakan ordernya banyak yang gagal dan tidak closing karna satu dan lain hal. berbeda dengan Darmin, yang di tengah kegalauannya hatinya benar-benar kacau dan tidak bisa fokus lagi kepada pekerjaannya karena merasa sudah sangat yakin bahwa dirinya pasti tidak akan lolos masa probationnya. Darmin, bukannya semakin giat mencari order malah semakin giat tengok kanan kiri mencari alternatif pekerjaan yang lain, dan cenderung berfikiran negatif terhadap perusahaan dan teman-temannya yang sedikit-sedikit mendapat sukses klosing penjualan.

Waktu terus berlalu sampailah kepada 2 minggu terakhir penilaian Salesman Baru. Posisi Taryono masih jauh tertinggal di klasemen pencapaian penjualan yaitu nomor 2 terbawah dari semua Salesman. hatinya tentu semakin galau, tapi tetap fokus berjualan dan tetap terus cari prospek-prospek baru walaupun mungkin secara psikis merasa cukup lelah, namun tetap berusaha mempertahankan mindset positifnya. Sementara Darmin yang juga pada saat itu juga sudah galau tingkat tinggi, kehabisan energi dan sudah sering2 “pergi ke tempat Ibadah dari siang hari sampai sore” dan tidak lagi bersemangat mengunjungi calon Klien, Namun demikian tanpa disangka-sangka seminggu sebelum masa probationnya salah satu Klien terbesar Darmin bisa Closing dengan Angka yang luar biasa besar dan berhasil menutupi Target penjualannya di bulan-bulan sebelumnya. Alhasil target 6 bulannya seketika terpenuhi.

Darmin menjadi sangat senang dan merasa Selamat…, akhirnya bisa terus melanjutkan bekerja sebagai Salesman di perusahaan tersebut, sementara Taryono pasti sudah bisa di tebak dirinya gagal memenuhi target perusahaan dan harus siap dengan Konsekuensi dan aturan main perusahaan untuk keluar dari Arena Pertempuran.

Darmin tiba-tiba menjadi positif dan kembali bersemangat tinggi. kalau saja waktu itu Facebook sudah populer pasti Statusnya penuh dengan keberhasilan dan kata-kata positif. Namun berbeda dengan Taryono, bagaikan tentara yang kalah perang seorang Taryono menghilang bagai ditelan bumi dan tidak diketahui lagi dimana rimbanya.

Waktu kemudian terus berlalu… masuk di dua tahun, empat tahun sampai dengan tujuh tahun dan sebelas tahun kemudian. sampai akhirnya kami pun bertemu, ya…, Saya, Darmin, Taryono dan seorang Sahabat lainnya sempat reunian di sebuah Kafe di Surabaya tahun lalu. O iya mungkin saya sedikit lupa katakan, ini merupakan sebuah pengalaman yang memang saya alami sendiri, makanya diatas saya samarkan beberapa nama diatas hehehe….., Tanpa di sangka seorang taryono yang dulu sangat lugu bersepatu karet dan dari Mojokerto Namun saya kenali sebagai orang yang selalu punya semangat tinggi dan Mindset positif itu saat ini sudah menjadi seorang Asst GM Sales di perusahaan yang cukup dikenal dengan usianya yang relatif muda. berbeda dengan Darmin yang sempat pindah satu perusahaan dari perusahaan kami waktu itu saat ini masih menjadi Manager di perusahaan tersebut. dan sebagai catatan pula Perusahaan Taryono merupakan perusahaan MNC yang skala Industrinya jauh lebih besar di banding perusahaan Darmin yang masih sebuah Lokal Company. tentunya dari sisi benefit, dsb tempat dimana Taryono bekerja tentunya jauh lebih baik.

Sambil mengenang masa lalu saya sempat memperhatikan Taryono yang memang masih tetap bersemangat, humble dan selalu positif, sesuatu yang tidak hilang dari 11 tahun yang lalu saya mengenal dirinya…, hmm sebuah Mentalitas seorang Salespeople murni memang saya rasakan di dirinya. sementara berbeda dengan Darmin, yang ternyata jauh berbeda dengan Taryono, tidak sepositif Taryono dan masih kerap kali merasa galau dengan Pekerjaannya, bahkan selalu bertanya apa ada kemungkinan kami membantu dirinya keluar dari perusahaannya sekarang dan ikut di salah satu perusahaan kami bekerja.

Satu hal yang sangat menarik ketika saya tanyakan kepada Taryono kemana dia setelah tidak lolosnya probation di perusahaan kami waktu itu. dan jawaban dari dirinya cukup menarik, dia mengatakan Waktu itu dia memang sangat kecewa…,, namun dia sangat bersyukur dirinya tidak lolos probation di perusahaan itu karena setelah itu dia mengalami proses pembelajaran yang lebih berharga sampai saatnya dia masuk di Industri yang membuatnya lebih sukses saat ini. Uniknya adalah waktu masa-masa terakhir probationnya dia pantang menyerah memprospek klien, sampai-sampai prospek Klien terakhir lah yang kemudian mengajaknya bekerja di Perusahaannya dan memasuki Industri yang baru yang ternyata membuatnya berkembang di Industri itu. walaupun sesudah itu dia sempat berpindah ke perusahaan lainnya sampai akhirnya di posisinya sekarang.  sempat waktu itu saya berfikir bahwa “Keberuntungan memang Hanya di peruntukan bagi mereka yang benar-benar pantas mendapatkannya”. Cukup Ironis sepertinya memang, Waktu itu saya kira Darmin lah yang beruntung, namun ternyata Taryono sebetulnya yang lebih beruntung. Namun kenapa dia bisa lebih beruntung karena Taryono lebih memantaskan diri untuk mendapatkannya.

Pembelajaran yang sangat berharga dari cerita di atas adalah bagaimana kita sebagai sales harus mampu memaknai sebuah kegagalan. Kegagalan walau seperti apapun juga seringkali hanyalah sebuah titik tolak yang memang kita harus lewati, dan bukan menjadi suatu akhir, apalagi sebuah Bencana. Jauh lebih penting juga adalah bagaimana kita bisa selalu menilai diri kita sendiri dan terus menerus menjaga mindset positif kita serta senantiasa mengupgrade semua software dalam diri kita untuk selalu bisa menciptakan yang terbaik bagi diri kita sendiri.

Sebetulnya masih banyak cerita pengalaman langsung sebuah kegagalan yang kemudian menjadi kesuksesan baik dari saya maupun dari anda semua…, semoga semua hal itu bisa menjadi bagian dari penyemangat diri kita sebagai Sales untuk tidak berhenti menaklukan semua keadaan. Karna sesungguhnya Salesman Hebat adalah mereka yang bisa mengalahkan Keadaan dan merubah Takdir kegagalan menjadi Takdir keberhasilan.

Akhir cerita …., untuk semua Salespeople yang membaca artikel ini, the Choices is on You…. mau jadi Taryono atau menjadi Darmin?

0 komentar:

Lokasi